Tata Ibadah Hari Doa Sedunia 2017
MINGGU, 19 MARET 2017
(Dipersiapkan oleh Komisi Hari Doa Sedunia Filipina
yang disesuaikan dengan kondisi JKK)
“Apakah aku berlaku tidak adil atasmu”?
Dilayani oleh : Pdt. Ni Luh Yuni Ambarawati, S.Si., Teol
Persiapan Jemaat : Doa pribadi
Persiapan Pendeta, Majelis Jemaat
Pemandu Pujian, dan Organis : Doa bersama di Konsistori
LATAR BELAKANG PERAYAAN HARI DOA SEDUNIA
HDS adalah suatu gerakan perempuan kristen di seluruh dunia dari semua latar belakang dan tradisi, yang bersama-sama berkomitmen dalam doa pada hari Jumat pertama bulan Maret setiap tahun. Lebih dari 170 negara bergabung dalam gerakan HDS ini, dimana tema dan buku panduannya disiapkan oleh Komite HDS dari negara yang berbeda setiap tahunnya. Perempuan Kristen sedunia memperkokoh iman kepada Tuhan Yesus Kristus, dan membagi pengalaman, penderitaan, kegembiraan, dan harapan. Dalam kebersamaan ini, perempuan menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari keutuhan dunia ini, oleh karenanya tidak dapat lagi hidup terisolasi, tersisih dan tertindas. Tujuan utama adalah “merayakan bersama, baik kesatuan kita di dalam Kristus maupun keberagaman kita dalam latar belakang budaya”
Pada tahun 1926 tata ibadah didistribusi ke banyak Negara dan lembaga mitra misi, respons atas tata ibadah pertama ini sangat positif. Saat ini HDS setiap tahun-nya dipimpin oleh kaum perempuan dari berbagai tradisi. Simbol untuk Hari Doa Sedunia dikembangkan oleh perempuan Kristen Irlandia dan diadopsi sebagai logo internasional pada tahun 1982. Desainnya terdiri dari anak panah konvergen dari empat arah kompas, orang-orang yang berlutut dalam doa, salib Celtic, dan lingkaran mewakili dunia dan kesatuan kita dalam keragaman. Pada awalnya perayaan HDS menjadi perayaan jemaat dewasa, khususnya kaum perempuan, tetapi dekade ini telah dirancang juga panduan perayaan HDS untuk pelayanan anak, dengan tujuan mengantar anak-anak berperan aktif dalam gerakan oikumene, serta membentuk kepribadian anak yang mencintai dan menghargai kepelbagaian global dalam kehidupan gereja.
Gong dibunyikan 7 kali (3+3+1) Jemaat bersama-sama berdiri, Majelis (3) keluar dari Konsistori membawa lilin yang menyala sebagai lambang Theopani, diikuti Majelis (7) yang mengambil api lilin untuk dibawa kebalai serbaguna & Majelis (1) yang mengajak Jemaat memulai ibadah.
(jemaat diundang berdiri)
Nyanyian pembukaan : Berhimpun Semua (KJ. 15:1-2)
Prosesi Pendeta dan Majelis Jemaat memasuki ruang ibadah
- SAMBUTAN SELAMAT DATANG
Perempuan 1 : Di Filipina kami menyapa semua orang dengan kata “Mabuhay”. Kata ini berasal dari Bahasa Tagalog (Bahasa Nasional Negara kami), yang mempunyai beberapa arti yaitu: “semoga selamat’, “semangat”, “selamat datang”, dan “horee”. Mabuhay !
Perempuan 2 : Selamat datang dalam persekutuan Hari Doa Sedunia tahun 2017. Kami bersama kaum perempuan Filipina, mengajak anda semua untuk merenungkan tema tahun ini “Apakah aku berlaku tidak adil atasmu?”. Dengan penuh kasih, kami menyambut anda semua. Marilah kita bersama bersyukur dan beribadah kepada Allah.
(Jemaat duduk kembali)
- PANGGILAN BERIBADAH
Perempuan 1 : Oh betapa indahnya berkumpul di rumah Allah !
Jemaat : Kami merasakan hadirat Tuhan
Perempuan 2 : Ditengah penderitaan dan kesulitan,
Jemaat : Kami mengalami penyertaan Roh Kudus
Perempuan 1 : Dalam segala hal, mengucap-syukurlah !
Semua : Bersyukur atas Anugerah sempurna, Yesus Kristus, Penebus kita.
- SUARA KAUM PEREMPUAN MENCARI KEADILAN EKONOMI
Pendeta : Mari kita mendengar suara perempuan Filipina.
Perempuan 3 : Saya Merlyn, dari Mindanao, pulau di selatan Filipina. Ketika saya berusia tujuh tahun, ibu saya, korban kekerasan dalam rumah tangga, meninggal karena kanker. Sebulan kemudian, saya menyaksikan ayah saya ditembak mati karena sengketa tanah. Saya terpaksa mencari pekerjaan untuk membiayai adik saya bersekolah. Saya naik kapal dengan orang yang merekrut saya pergi ke kota besar Manila. Saya berusia lima belas tahun waktu itu, tapi berbohong menjadi delapan belas supaya bisa mendapatkan pekerjaan. Agen tenaga kerja mempekerjakan saya pada suatu keluarga. Saya bekerja sebagai pembantu, bekerja hampir 24 jam setiap hari tanpa hari libur.
Setelah 3 bulan bekerja, saya masih tidak menerima gaji, jadi saya mengundurkan diri dan pindah. Majikan saya menuduh saya mencuri anting-anting putrinya. Saya dimasukkan ke
saya mencuri anting-anting putrinya. Saya dimasukkan ke dalam sel tahanan selama 3 hari dan 2 malam di penjara kota. Dengan bantuan seorang pengacara Kristen, yang menawarkan jasa hukum gratis, saya memenangkan kasus saya terhadap majikan saya untuk kasus praktek perburuhan yang tidak adil, yang diajukan pada Departemen Tenaga Kerja. Saya menerima kompensasi. Saya juga memenangkan kasus pencurian tersebut dan nama saya dibersihkan dari catatan kriminal.
Kisah saya ini adalah juga kisah banyak gadis muda yang berasal dari daerah pedesaan, dan orang-orang yang meninggalkan negara Filipina sebagai Pekerja Migran di luar negeri. Dipaksa oleh keadaan ekonomi yang lemah, kami bermigrasi ke kota-kota besar dan luar negeri. Kami hampir tidak menyelesaikan pendidikan dasar dan hanya bisa bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Kami sering diperlakukan tidak baik dan mengalami ketidakadilan ekonomi, sampai pada bulan November 2012, itu disahkan menjadi undang-undang Filipina tentang Pekerja Rumah Tangga Act 2012 atau Kasambahay Bill (istilah Filipina untuk pekerja rumah tangga). Kasambahay Bill adalah hasil dari perjuangan rakyat untuk melindungi pekerja rumah tangga. Ada lebih dari 2 juta pekerja rumah tangga Filipina, dan kita perlu pekerjaan yang layak untuk mengatasi kemiskinan.
Perempuan 4 : Saya Celia, seorang pekerja pada perkebunan tebu dan mempunyai anak satu. Saya seorang pekerja dengan upah harian di salah satu perkebunan gula yang besar di bagian tengah Pulau Luzon, pulau besar di sebelah utara Filipina. Upah harian saya tidak cukup untuk memberi makan keluarga saya. Karena konversi penggunaan lahan dan mekanisasi di Hacienda (perkebunan gula), maka jumlah hari kerja yang tersedia untuk setiap pekerja berkurang. Paling banyak saya bekerja dua hari seminggu.
Untuk mendapatkan penghasilan tambahan bagi keluarga saya, saya menjual bakso ikan dan sagu di sebuah sekolah. Saya juga menjadi tukang cuci pada suatu keluarga, kadang bekerja sebagai sales yang menjual sabun dan pasta gigi di jalan-jalan. Meskipun saya bekerja keras, tetap tidak cukup untuk memberi makan yang layak tiga kali sehari bagi keluarga saya, dan tidak mampu untuk berlangganan air di rumah. Saya harus mendapatkan air dari pompa umum.
Sama seperti 5.000 pekerja perkebunan lainnya, saya menantikan saat untuk memiliki sebidang tanah di perkebunan tebu 6.453 hektar ini. Pemilik tanah yang menjanjikan untuk mendistribusikan tanah kepada petani-penerima manfaat menurut Pembaharuan Peraturan Agraria, suatu Program dari pemerintah. Kami hanya perlu terus berjuang untuk hak-hak kami demi kehidupan yang layak.
menjanjikan untuk mendistribusikan tanah kepada petani-penerima manfaat menurut Pembaharuan Peraturan Agraria, suatu Program dari pemerintah. Kami hanya perlu terus berjuang untuk hak-hak kami demi kehidupan yang layak.
Perempuan 5 : Saya Editha, 69 tahun, seorang janda, dengan tiga anak yang semuanya sudah menikah. Saya tinggal di Ormoc, kota di Central Filipina, dan kami diterjang oleh Badai Topan Yolanda (Badai Haiyan). Saya kehilangan toko saya dan rumah saya, tapi saya selamat dan bisa mengungsi. Saya masih tinggal di gubuk darurat dengan tetangga saya dan kami berbagi makanan. Saya belum mendapat bantuan untuk membangun kembali rumah saya, tapi kami berterima kasih kepada beberapa organisasi yang masih menyediakan bantuan bagi para korban topan. Saya menerima uang tunai untuk bekerja dari Christian Aid.
Topan Haiyan meninggalkan luka yang mendalam dalam hidup saya. Saya mencari pekerjaan dan rumah baru. Program rehabilitasi pemerintah sangat lambat, meskipun miliaran dolar berdatangan dari sumbangan masyarakat internasional dalam menanggulangi kehancuran yang luar biasa yang disebabkan oleh Topan Haiyan. Pada saat seperti ini, kami menyadari bahwa solidaritas adalah sumber kekuatan kita.
- PENGAKUAN DOSA
Pendeta : Sekarang mari kita mengaku kepada Allah akan segala kekurangan kita.
Perempuan 6 : Ya Tuhan kami, cerita dari saudara-saudara kami tadi mengingatkan kami bahwa kami telah kehilangan kemuliaanMu. Kami telah menggunakan alasan bahwa kami hanya satu suara kecil di tengah yang banyak.
Semua : Engkau, Tuhan, telah mendengar teriakan umatMu untuk perdamaian;
Perempuan 7 : Tapi kami menganggap bahwa kami lebih membutuhkan militer yang kuat untuk melindungi kepentingan kami.
Semua : Allah, Engkau telah mendengar teriakan umatMu untuk melindungi bumi;
Perempuan 6 : Sementara kami menganggap bahwa ilmu akan dapat menemukan cara untuk menyelamatkan planet ini.
Semua : Engkau telah mendengar teriakan umatMu untuk rekonsiliasi;
Perempuan 7 : Tapi kami tidak pernah peduli akan orang-orang dari ras atau budaya lain.
Semua : Tuhan, Engkau telah mengajarkan kami untuk membantu orang miskin dan tunawisma;
Perempuan 6 : Tapi kami beralasan bahwa bantuan kami tersebut akan disalahgunakan.
Semua : Tuhan, kami telah kehabisan alasan dan sekarang harus menghadapi dosa kami sendiri. Kami bertanggung jawab untuk kegagalan kami yang tidak mendengar teriakan umatMu. Kami sesungguhnya harus menanggapi panggilanMu untuk memberlakukan keadilan. Ampunilah kami, ya Allah, dan bebaskanlah kami. Gerakkanlah kami untuk bertindak. Amin.
(jemaat diundang berdiri)
- ANUGERAH PENGAMPUNAN
Pendeta : “Dengarkanlah Aku, hai kamu yang mengejar apa yang benar, hai kamu yang mencari Tuhan ! Pandanglah gunung batu yang dari padanya kamu terpahat, dan kepada lobang penggalian batu yang dari padanya kamu tergali (Yesaya 51:1). Sungguh, kamu akan berangkat dengan sukacita dan akan dihantarkan dengan damai; gunung-gunung serta bukit-bukit akan bergembira dan bersorak-sorai didepanmu, , dan segala pohon-pohonan di padang akan bertepuk tangan. (Yesaya 55:12) Yesus berkata, “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam kelimpahan.” Tuhan mengampuni dan membebaskan kita untuk memulai lagi dari kedalaman hati kita.
Semua : Amin
Menyanyikan pujian “Doa Bapa Kami”
Bapa kami yang ada di sorga,
dimuliakanlah nama-Mu,
datanglah kerajaan-Mu,
jadilah kehendak-Mu,
di atas bumi seperti di dalam sorga.
Berilah kami rejeki pada hari ini
dan ampunilah kesalahan kami,
s’perti kamipun mengampuni
yang bersalah k’pada kami;
dan janganlah masukkan kami
ke dalam pencobaan,
tetapi bebaskanlah kami
dari yang jahat.
(Jemaat duduk kembali)
- PEMBACAAN FIRMAN : MATIUS 20:1-16
Perempuan 8 : Kami mengajak anda untuk merenungkan dalam hati pertanyaan tema ini, “Apakah aku berlaku tidak adil atasmu?”
Perempuan 9 : Yesus berbicara kepada para murid tentang Kerajaan Sorga. Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan yang pergi keluar beberapa kali dalam sehari untuk menyewa pekerja untuk kebun anggurnya, dan dibayar masing-masing satu dinar per-hari.
Perempuan 10 : Pada saat banyak orang menganggur, kita gembira karena akan lebih banyak pekerja yang dipekerjakan sepanjang hari. Namun, jika kita telah datang bekerja lebih pagi, kita mungkin akan mengeluh jika menerima upah yang sama dengan orang-orang yang datang belakangan.
Perempuan 8 : Di Filipina, di kalangan para petani padi, biasanya para tetangga diajak untuk membantu saat penanaman dan saat panen. Tidak ada yang dibayar, tapi hasil panen dibagi untuk semua. Praktek ini disebut dagyaw.
Perempuan 9 : Dagyaw, adalah tradisi yang baik untuk membangun dan mempertahankan sebuah komunitas, dan itu adalah sebuah perwujudan kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.
Perempuan 10 : Dalam Alkitab, Yesus menggunakan kisah kemurahan hati seorang pemilik Tanah, untuk membantu kita memahami seperti apa Kerajaan Sorga itu.
– Mengapa orang-orang yang menghabiskan sebagian besar harinya dengan tidak bekerja, kemudian dibayar dengan jumlah yang sama seperti orang-orang yang bekerja sepanjang hari? (…..saat teduh….)
– Bagaimana dagyaw dibandingkan dengan kemurahan hati pemilik tanah? (…saat teduh…)
Perempuan 8 : – Siapa yang dimaksud dengan ‘belakangan/terakhir’ dalam komunitas Anda? (…saat teduh…)
– Apakah anda mengundang mereka untuk panen? (…saat teduh…)
– Di mana anda melihat Tuhan memanggil anda memberlakukan keadilan? (…saat teduh…)
– Bagaimana anda merespons panggilan Tuhan? (…saat teduh…)
– Silahkan berbagi refleksi dan tanggapan anda dengan orang yang duduk di sampingmu tentang pertanyaan-pertanyaan diatas.
- REFLEKSI
- SAAT TEDUH
- KOMITMEN UNTUK SOLIDARITAS
Perempuan 11 : Waktu panen adalah waktu kelimpahan. Ini adalah waktu untuk perayaan. Kami mengundang anda untuk datang dan menerima hasil panen anda, ini adalah dagyaw kami !. Buah keadilan yang mempertahankan harapan dan komitmen kami, yang memberi kami inspirasi untuk mampu menghadapi tantangan.
Pujian “Sudahkah yang Terbaik Kuberikan” – (NKB. 199:1,3)
Perempuan 12 : Allah Penyayang, kami persembahkan buah-buahan yang melambangkan buah dari semangat pembebasan – bahwa pada saatnya, keadilan akan menang. Bimbinglah masyarakat dan bangsa kami menjadi manusia yang penuh kasih dan kebaikan.
saatnya, keadilan akan menang. Bimbinglah masyarakat dan bangsa kami menjadi manusia yang penuh kasih dan kebaikan.
Ya Allah yang hidup, yang mengubah benih menjadi buah, kami berdoa untuk mereka yang berpartisipasi dalam proses menabur sampai masa menuai.
Perempuan 11 : Buatlah benih keadilan kami tumbuh seperti tanaman di tepi air hidup, air rahmatMu. Kami persembahkan buah-buahan keadilan dan keinginan dari kami yang berkomitmen untuk membawa harapan dalam dunia yang tidak adil ini. Kami persembahkan tangan kami untuk terus menanam dan memelihara buah-buah tersebut sampai saat menuai. Sucikan kami. Bentuklah kami. Bebaskan kami. Pelihara tuaian kami. Pakailah kami didalam kehendak dan kemuliaanMu. Amin.
- PADUAN SUARA/VG
- PS. PWDK JKK
- BERITA JEMAAT (MJ. 1)
- DOA SYAFAAT
- PERSEMBAHAN
Pendeta : Sekarang kami mempersembahkan milik kami sebagai tanda syukur kepada Allah sambil menyanyikan pujian : “Jika Padaku Ditanyakan” – KJ. 432:1-2
(Jemaat diundang berdiri)
DOA PERSEMBAHAN
- KIDUNG PENGUTUSAN : “Kuutus Kau” – NKB. 210:1,5
Pendeta : Yesus, roti hidup, mengutus kamu untuk memberi makan sesamamu.
Semua : Kami akan berbagi hidup dengan sesama kami.
Pendeta : Allah yang adil, mengutusmu untuk menanam benih pengharapan, agar tumbuh menjadi buah pembebasan dan cinta kasih.
Semua : Kami akan mempersembahkan tangan kami untuk menanam, memelihara, dan menuai.
Pendeta : Roh Kudus mengutus kamu untuk menjadi pembawa keadilan dan sukacita.
Semua : Pakailah kami dalam kehendak dan kemuliaanMu. Amin.
- BERKAT
Pendeta : Keadilan dan damai kiranya turun atasmu, Cinta kasih dan sukacita surgawi kiranya menjadi bahagianmu
Rahmat dan sejahtera kiranya mengikuti hidupmu kini dan selamanya.
- NYANYIAN PENUTUP (mengiringi Pendeta dan Jemaat bersalam-salaman) : “Indah Mulia, Bahagia Penuh” – NKB. 129:1-2
TUGAS MAJELIS JEMAAT DAN PELAYAN MUSIK IBADAH
MINGGU, 19 MARET 2017
| KEBAKTIAN I (07.00) | KEBAKTIAN II (10.00) | KEBAKTIAN III (18.00) |
| 1. Pnt. Djois Waluwanja | Dkn. Putu Steven Eka Putra | Pnt. Priska Soetapa |
| 2. Dkn. I Made Agus Miadi | Pnt. Suhito | Dkn. Nyoman Nurhandayani |
| 3. Pnt. Made Rai Miarsa | Pnj. I Wayan Sudana | Dkn. Ratnawati |
| 4. Dkn. Bambang Trispriyandaru | Pnt. Magdalena Hehakaya | Pnt. Rini F. Yani |
| 5. Pnj. IGM. Samekto PY | Pnj. Lende Tanggela | Dkn. GA. Stiti Sudastri |
| 6. Dkn. RE. Takari Palinggi | Pnt. Fransina Atading L | – |
| 7. – | Pnj. I Wayan Suarya | Pnj. Tumiyati Bambang S |
| 8. Pnt. Julianto Ari Saputra | – | Pnt. I Made Kertiyana |
| 9. Dkn. Dewi Ekawati Karmawan | Pnt. Putu Geria Astawa | Pnj. Krisna Putra |
| 10. Dkn. Sunarno | – | Pnj. Benyamin Herman H |
| 11. Pnj. I Ketut Dharma | – | Pnt. I Made Sumarna |
| BPI “FAJAR KASIH” (18.00) | ||
| Pnj. Bayu Widjayanto | Dkn. Budi Listianto | Dkn. Luscius J. Riwu Kore |
PELAYAN MUSIK IBADAH MINGGU DAN TIM MULTIMEDIA
| TUGAS | TIM MUSIK | PEMANDU PUJIAN | TIM MULTIMEDIA |
| Kebaktian I | Iwan
Jaya |
Shanti | Yitro
Andre |
| Rut | |||
| Joseph | |||
| Kebaktian II | Cahyo
Berta Christian |
Nanda | Sixtus
Agus |
| Anik | |||
| Neno | |||
| Kebaktian III | Yustin
Agi |
Sulendra | Quentin
Gusna |
| Dayu | |||
| Citra | |||
| BPI “Fajar Kasih” | Eva | Hara |
